SatuSehat Mobile adalah wajah baru dari upaya digitalisasi sistem kesehatan Indonesia. Berbasis pada transformasi dari PeduliLindungi, aplikasi ini dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai gerbang utama bagi masyarakat dalam mengakses data kesehatan pribadi secara mandiri. Tapi setelah lebih dari satu tahun berjalan, pertanyaannya kini bukan hanya “apa itu SatuSehat?” melainkan: apakah ia sudah benar-benar siap digunakan oleh masyarakat luas?

Sumber Foto: Freepik
Dari PeduliLindungi ke SatuSehat Pergeseran Fungsi
Transformasi PeduliLindungi menjadi SatuSehat Mobile bukan sekadar perubahan nama atau logo. Aplikasi ini mengemban misi baru: menjadi pusat integrasi data kesehatan nasional. Di dalamnya, pengguna dapat melihat riwayat vaksinasi, hasil tes laboratorium, status kunjungan rumah sakit, hingga Personal Health Record (PHR).
Tetapi transisi ini juga membawa tantangan. Banyak pengguna merasa aplikasi belum memberikan pengalaman penggunaan yang lancar, terutama ketika akses data tidak berjalan otomatis karena belum seluruh rumah sakit terhubung ke sistem nasional.
Antarmuka dan Navigasi Modern Tapi Perlu Petunjuk
Dari sisi desain, SatuSehat Mobile tampil bersih dan cukup modern. Penggunaan warna biru-putih memberikan kesan profesional. Navigasi ke berbagai menu juga mudah secara teknis, tapi kurang didukung edukasi. Banyak pengguna awam yang belum memahami istilah seperti “PHR”, atau bagaimana agar data medis mereka bisa tampil secara lengkap di aplikasi.
Tanpa edukasi publik yang memadai, fitur-fitur ini hanya akan dimanfaatkan sebagian kecil masyarakat. Ini menyoroti pentingnya integrasi fitur dengan literasi digital kesehatan.
Fitur Utama: PHR, Vaksinasi, dan Histori Kesehatan
Fitur Personal Health Record adalah pusat dari aplikasi ini. Dalam idealnya, setiap orang bisa melihat histori kesehatan pribadi mereka, seperti:
- Hasil lab klinis
- Diagnosa penyakit
- Kunjungan ke fasilitas kesehatan
- Data imunisasi anak-anak
Tetapi dalam praktiknya, data ini hanya bisa muncul jika fasilitas kesehatan (RS, klinik, puskesmas) tempat pengguna berobat telah terintegrasi dengan sistem SatuSehat. Jika belum, maka pengguna hanya akan melihat sebagian data yang sifatnya administratif, seperti vaksinasi COVID-19.
User Experience: Masih Ada Lubang yang Perlu Ditambal
Beberapa masalah yang masih sering dilaporkan oleh pengguna:
- Data hilang atau belum sinkron
Banyak pengguna menemukan data mereka tidak tersedia, meski sudah berobat di rumah sakit yang katanya “terintegrasi”. - Proses login dan otorisasi lambat
Penggunaan NIK sebagai dasar login memang praktis, tapi terkadang proses validasinya gagal karena server sibuk atau integrasi bermasalah. - Tidak semua fitur aktif untuk semua pengguna
Fitur seperti pelaporan imunisasi anak hanya muncul bagi pengguna tertentu, membuatnya terasa eksklusif padahal harusnya universal.
Namun yang perlu diperhatikan , beberapa rumah sakit dan puskesmas sudah menjalankan bridging dengan baik. Di tempat-tempat ini, pengguna dapat melihat hasil lab, resep obat, dan bahkan diagnosa secara real-time. Sebagian besar pengguna masih belum memahami fungsi-fungsi dalam aplikasi atau sistem digital kesehatan yang digunakan. Minimnya sosialisasi menyebabkan banyak fitur penting tidak dimanfaatkan secara maksimal, seperti akses riwayat penyakit, kontrol obat, atau pengingat imunisasi.
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan terkini seputar layanan, fitur, serta kebijakan yang tersedia dalam platform SatuSehat, Anda dapat mengunjungi website resmi SatuSehat melalui tautan berikut: https://satusehat.kemkes.go.id.
💡 Cari SIMRS yang sudah Bridging dengan SatuSehat? indohis.com jawabannya.



